Ttl : Lamongan 10 November 1991
Sekolah : SMA1 Lamongan
Alamat : Lopang, Kembangbahu Lamongan
Hoby : Membaca..............................
Cita2 : Ingin dadi orang sukses
Peace Love N' Gaul
*************************************************
Di halaman parkir gedung Salfativa Surabaya –terletak di sebelah gedung Dolog– itu kami bertemu. Seperti teman lama yang tidak pernah bersua, Habiburrahman El Shirazy, pengarang novel Ayat-Ayat Cinta itu, memelukku erat. Terik panas matahari seperti tak dirasakannya. Padahal, saat itu menjelang pukul 12 siang. Surabaya sedang panas-panasnya.
Kang Abik –sapa akrabnya– datang ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan rekannya –seorang doktor yang pernah memberi kata pengantar di novelnya itu. Di gedung itulah rupanya pernikahan sedang diadakan. “Menghadiri walimah kan hukumnya wajib kalau tidak berhalangan,” katanya. Meskipun jauh –dari Salatiga–, ia pun tetap memilih menghadirinya. “Lha kebetulan kok pas tidak ada acara, jadi ya datang. Sekalian pengen ketemu sama sodaraku jauh yang sekarang di Surabaya.” –maksudnya bertemu dengan orang yang diajak bicara Bersama temanku, Rozy, kami pun duduk-duduk di depan salah satu tempat pos penjagaan, bersebelahan dengan ruang yang di depannya tertulis tempat pelatihan sepak bola. Mungkin bukan tempat yang tepat, tapi disitulah kami berteduh.
Tak banyak yang berubah darinya semenjak saya bertemu –kurang lebih– setahun lalu. Bedanya, sekarang ia sudah menjadi bapak dari seorang putra yang lahir 20 Februari tahun lalu. “Alhamdulillah, sekarang sudah punya anak satu dari satu istri,” ujarnya saat temanku, Rozy, menanyainya tentang keluarga. Kalimat ’satu istri’ membuatku tergelitik. Keduanya memang baru kali ini bertemu.
Kedatangan Kang Abik memang sangat mendadak. Sorenya, sang istri –yang menjadi teman gara-gara blog– menghubungiku untuk menjemut suaminya di stasiun. Bagaimana ini? Lha aku tidak ada kendaraan jeh? Akhirnya saya kepikiran temanku yang bisa membantuku, Rozy. Namun ternyata, kedatangan kereta dari Semarang terlalu pagi, hingga menyulitkan saya untuk menjemputnya.
Dari halaman parkir Salfativa, saya tak kuasa menolak ketika Kang Abik memintaku untuk mengajaknya ke tempat kos-kosanku yang sempit. “Jaraknya lumayan dekat,” kataku. “Karena sepeda tidak bisa untuk bertiga, kita bisa naik angkot saja.”
Apesnya, di dompetku ternyata tidak ada mencukupi untuk sekadar naik angkot. Cuma Rp 2.000 saja yang tidak cukup untuk dua orang, sementara yang lain ‘uang besar’ semua. Piye iki? Kang Abik sendiri juga bernasib sama. “Alhamdulillah,” ujarnya melihat dua ‘orang kaya’ yang sampai-sampai tidak mempunyai uang ribuan. Tapi kok ndilalah, ketika saya merogoh saku celana belakang, di sana tanpa terduga ada uang limaribuan –lupa kapan saya menyimpannya.
Kami pun akhirnya memberhentikan angkot kuning. Tak sampai 15 menit, kami pun sampai di ruang sempit itu.
“Beginilah suasana Surabaya, panasnya minta ampun. Hingga tiap hari harus selalu menyalakan kipas angin,” ujarku setelah membuka pintu. Suasana agak ramai, karena tetangga depan kos ada gawe sunatan.
Sambil lesehan, kami pun ngobrol. Sebuah buku baru berjudul Fenomena Ayat-Ayat Cinta berpindah tangan, hadiah khusus dari Kang Abik. Tak sabar saya membukanya. Ternyata, ini merupakan buku perjalanan Kang Abik di mata adiknya, Anif Sirsaeba El Shirazy. Sebuah ‘buku wajib’ ketika ingin mengetahui lebih jauh tentang Novel Ayat-Ayat Cinta.
Sorenya, kami pun jalan-jalan ke Togamas. Beliau memborong buku sebagai oleh-oleh.“Kalau sedang bepergian jauh, biasanya oleh-olehnya ya buku,” ujarnya suatu kali.
By
Pemuja Cinta
